Kekuatan Bening

Saya ingin membawa anda kepada kisah fenomenal 5 abad 59 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1453 masehi……

Disaat muda mudi hari ini sedang galau dengan segala urusan dunianya. Disaat yang merasa masih berkepala dua beleha-leha dengan dunia ini, disaat kita tertidur pulas tergeletak ditempat tidur dengan tampang tak berdosa dan tak tahu apa-apa meninggalkan semua tugas dan kewajiban yang belum selesai, disaat kita lewatkan sepertiga malam dengan mati sementara, disaat siang kita gilas dengan candaan yang tak bermanfaat yang dilakukan untuk mengisi kekosongan waktu, disaat kita semua sibuk dengan urusan sendiri tak menyadari sebagai makhluk Allah kita diciptakan dengan misi kehidupan yang tak dapat ditawar. Disaat kita semua tidak peduli dengan masa depan agama (islam) yang kita bawa sejak lahir dan tertulis gagah di KTP. Disaat kita tidak peduli semua itu, disaat Allah sudah menyediakan waktu khusus di 1/3 malam terakhir untuk bermesra denganNya….
….
Disaat itu, seorang pemuda 5 abad yang lalu tetap terjaga…
……
Obsesi tujuh abad itu begitu bergemuruh di dada seorang Sultan muda yang baru berusia 23 tahun ketika itu. Tak sebagaimana lazimnya, obsesi itu bukan mengeruhkan, melainkan semakin membeningkan hati dan jiwanya. Ia tahu hanya seorang yang paling bertaqwa yang layak mendapatkannya. Ia tahu hanya sebaik-baik pasukan yang layak mendampinginya.

Maka disepertiga malam terakhir menjelang penyerbuan bersejarah itu ia berdiri di atas mimbar, dan meminta semua pasukannya berdiri. “Saudara-saudaraku di jalan Allah”, ujarnya, “Amanah yang dipikulkan ke pundak kita menuntut hanya yang terbaik yang layak mendapatkannya. Tujuh ratus tahun lamanya nubuat Rasulullah telah menggerakkan para mujahid tangguh, tetapi Allah belum mengizinkan mereka memenuhinya. Aku katakan pada kalian sekarang, yang pernah meninggalkan shalat fardhu sejak balighnya, silakan duduk!”

Begitu sunyi. Tak seorang pun bergerak.

“Yang pernah meninggalkan puasa Ramadhan, silakan duduk!”

Andai sebutir keringat jatuh ketika itu, pasti terdengar. Hening sekali, tak satu pun bergerak.

“Yang pernah mengkhatamkan Al Quran melebihi sebulan, silakan duduk!”

Kali ini, beberapa gelintir orang perlahan menekuk kakinya. Berlutut berlinang air mata.

“Yang pernah kehilangan hafalan Al Quran-nya, silakan duduk!”

Kali ini lebih banyak yang menangis sedih, khawatir tak terikut menjadi ujung tombak pasukan. Mereka pun duduk.

“Yang pernah meninggalkan shalat malam sejak balighnya, silakan duduk!”

Tinggal sedikit yang masih berdiri, dengan wajah yang sangat tegang, dada berdegup kencang, dan tubuh menggeletar.

“Yang pernah meninggalkan puasa Ayyaaumul Bidh, silakan duduk!”

Kali ini semua terduduk lemas. Hanya satu orang yang masih berdiri. Dia, sang sultan sendiri. Namanya Muhammad Al Fatih. Dan obsesi tujuh abad itu adalah Konstantinopel.

Kawan. Beliau berumur 23 tahun ketika itu. Dan beliaulah yang dimaksudkan Rasullulah dalam hadistnya “Kota Heraclius lebih dahulu. Yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pasukan. Dan pemimpinnya adalah sebaik-baik panglima”.

Ini, masanya kita, sekarang zaman kita yang memegang anak panah dan busurnya, maka buatlah gebrakan baru sendiri, jangan selalu terlena dengan kejayaan masa lalu.

Bukan kita yang memilih takdir

Takdirlah yang memilih kita
Bagaimanapun, takdir bagaikan angin
Bagi seorang pemanah
Kita selalu harus mencoba
Untuk membidik dan melesatkannya
Di saat yang paling tepat
~ Salahuddin Al Ayyubi~

Who is the next Al Fatih???

Ditulis pada Uncategorized | Tinggalkan Komentar

Kekuatan Bening

Saya ingin membawa anda kepada kisah fenomenal 5 abad 59 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1453 masehi……

Disaat muda mudi hari ini sedang galau dengan segala urusan dunianya. Disaat yang merasa masih berkepala dua beleha-leha dengan dunia ini, disaat kita tertidur pulas tergeletak ditempat tidur dengan tampang tak berdosa dan tak tahu apa-apa meninggalkan semua tugas dan kewajiban yang belum selesai, disaat kita lewatkan sepertiga malam dengan mati sementara, disaat siang kita gilas dengan candaan yang tak bermanfaat yang dilakukan untuk mengisi kekosongan waktu, disaat kita semua sibuk dengan urusan sendiri tak menyadari sebagai makhluk Allah kita diciptakan dengan misi kehidupan yang tak dapat ditawar. Disaat kita semua tidak peduli dengan masa depan agama (islam) yang kita bawa sejak lahir dan tertulis gagah di KTP. Disaat kita tidak peduli semua itu, disaat Allah sudah menyediakan waktu khusus di 1/3 malam terakhir untuk bermesra denganNya….
….
Disaat itu, seorang pemuda 5 abad yang lalu tetap terjaga…
……
Obsesi tujuh abad itu begitu bergemuruh di dada seorang Sultan muda yang baru berusia 23 tahun ketika itu. Tak sebagaimana lazimnya, obsesi itu bukan mengeruhkan, melainkan semakin membeningkan hati dan jiwanya. Ia tahu hanya seorang yang paling bertaqwa yang layak mendapatkannya. Ia tahu hanya sebaik-baik pasukan yang layak mendampinginya.

Maka disepertiga malam terakhir menjelang penyerbuan bersejarah itu ia berdiri di atas mimbar, dan meminta semua pasukannya berdiri. “Saudara-saudaraku di jalan Allah”, ujarnya, “Amanah yang dipikulkan ke pundak kita menuntut hanya yang terbaik yang layak mendapatkannya. Tujuh ratus tahun lamanya nubuat Rasulullah telah menggerakkan para mujahid tangguh, tetapi Allah belum mengizinkan mereka memenuhinya. Aku katakan pada kalian sekarang, yang pernah meninggalkan shalat fardhu sejak balighnya, silakan duduk!”

Begitu sunyi. Tak seorang pun bergerak.

“Yang pernah meninggalkan puasa Ramadhan, silakan duduk!”

Andai sebutir keringat jatuh ketika itu, pasti terdengar. Hening sekali, tak satu pun bergerak.

“Yang pernah mengkhatamkan Al Quran melebihi sebulan, silakan duduk!”

Kali ini, beberapa gelintir orang perlahan menekuk kakinya. Berlutut berlinang air mata.

“Yang pernah kehilangan hafalan Al Quran-nya, silakan duduk!”

Kali ini lebih banyak yang menangis sedih, khawatir tak terikut menjadi ujung tombak pasukan. Mereka pun duduk.

“Yang pernah meninggalkan shalat malam sejak balighnya, silakan duduk!”

Tinggal sedikit yang masih berdiri, dengan wajah yang sangat tegang, dada berdegup kencang, dan tubuh menggeletar.

“Yang pernah meninggalkan puasa Ayyaaumul Bidh, silakan duduk!”

Kali ini semua terduduk lemas. Hanya satu orang yang masih berdiri. Dia, sang sultan sendiri. Namanya Muhammad Al Fatih. Dan obsesi tujuh abad itu adalah Konstantinopel.

Kawan. Beliau berumur 23 tahun ketika itu. Dan beliaulah yang dimaksudkan Rasullulah dalam hadistnya “Kota Heraclius lebih dahulu. Yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pasukan. Dan pemimpinnya adalah sebaik-baik panglima”.

Ini, masanya kita, sekarang zaman kita yang memegang anak dan busurnya, maka buatlah gebrakan baru sendiri, jangan selalu terlena dengan kejayaan masa lalu.

Bukan kita yang memilih takdir
Takdirlah yang memilih kita
Bagaimanapun, takdir bagaikan angin
Bagi seorang pemanah
Kita selalu harus mencoba
Untuk membidik dan melesatkannya
Di saat yang paling tepat
~ Salahuddin Al Ayyubi~

Who is the next Al Fatih???

Ditulis pada Uncategorized | Tinggalkan Komentar

Intifadhah 3 start Now

DARI PADANG, SUMBAR, INDONESIA HINGGA JALUR GAZA!!!

Ditulis pada Uncategorized | Tinggalkan Komentar

WIN

Sesungguhnya, jalan mencapai puncak itu berat,
tetapi tetap bertahan di puncak jauh lebih berat…
Barang siapa yng mengintip pahala karena keikhlasan,
niscaya menjadi ringanlah semua tugas yang berat itu.
~ Solikin Abu Izzuddin ~

“Jalan ini” dihampari jalan menuju surga dengan berbagai makar (yang dibenci) , dan jalan menuju neraka dengan syahwat (keindahan yang melenakan)”
~ H.r. Bukhari ~

Oke kawan. Pertanyaannya sekarang adalah, “ketika sudah menang apa yang harus dilakukan oleh seorang pemenang?” Yapz. Mengisi pos-pos kemenangan tersebut.

“ Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang kokoh”
~ As-Saff : 4 ~

Ketika Allah beri kemenangan maka yang tepat dilakukan saat itul adalah mengisi kemenangan itu. Tapi, tahukah kita apa makna kemenangan sebenarnya? “Ketika kebenaran masih bersemayam di dalam hati” itulah kemengangan. Jadi apa gunanya ketika kita memenangkan “peperangan ini” malah akan membuat tarbiyah semakin mandul, tidak produktif, dan mengalami komplikasi penyakit hati, suuzhon, saling curiga, saling tidak percaya, ukhuwah menjadi hambar, hubungan social tidak harmonis, hubungan dengan Allah kering. Duha jarang. QL hampir-hampir tidak pernah, shaum sunnah sudah terlupakan, tilawah qur’an jarang-jarang, dan jangan sampai ini menjadi fenomena umum. Apa yang akan terjadi kalau kondisinya seperti ini? masih kah kemenangan yang dirasakan? Ketika ruhi-ruhi sudah mati dan tidak militan.

Dakwah itu adalah yang utama. Sebelum menjadi apapun kita adalah seorang Da’i. Lembaga-lembaga yang ada hanya untuk mempelancar tujuan dakwah. Ketika tiket kemenangan sudah dipegang, maka yang harus dilakukan adalah perkuat ruhi. Perkuat amalan yaumi. Bukan malah sebaliknya.

Dakwah jadi stagnan! Apakah ini kemenangan? kemunduran rekuitmen, apakah ini kemenangan? ukuhuwah hambar! Apakah ini makana kemenagan? Acara-acara yang diangkatkan hampir tidak pernah tepat waktu! Ini kemenangan? kalau begini, lebih baik tidak menang. Karena Tarbiyah terlalu mahal harganya untuk membayar itu semua!!!

Jangan berlarut-larut dalam euforia kemenangan. saya kira kita semua sudah mendapatkan pelajaran berharga dari kisah perang badar dan perang uhud. Kurang apa coba??!!Dengan kemenangan ini, seharusnya membuat ukhuwah semakin solid. Kalau hanya membuat ukhuwah semakin renggang, percuma saja menang.
Masing-masing lini, jangan seru sendiri. Sekarang salah satu TIK nya adalah, ketika kemengan satu lini, mampu merangsang kemenangan dari lini-lini yang lain.

Kemenangan ini, hanya untuk kemenangan dakwah. Bukan untuk kemenangan pribadi.

Tiada sesuatu yang membuat kami bersikap seperti ini

selain rasa cinta yang telah mengharu-biru hati kami,

menguasai perasaan kami,

memeras habis air mata kami, dan

mencabut rasa kantuk dari pelupuk mata kami.

Betapa berat rasa di hati kami menyaksikan problema yang mencabik-cabik kampus ini,

sementara kita hanya menyerah pada kehinaan dan pasrah oleh keputusasaan.

Kami ingin agar kampus ini mengetahui bahwa kami membawa misi yang bersih dan suci,

bersih dari ambisi pribadi, bersih dari kepentingan dunia, dan bersih dari hawa nafsu.

Kami tidak mengharapkan sesuatu pun dari manusia,tidak mengharap harta benda atau imbalan lainnya,

tidak juga popularitas, apalagi sekedar ucapan terima kasih.

Yang kami harap adalah

terbentuknya kampus yang lebih baik dan bermartabat

serta kebaikan dari Allah – Pencipta Alam semesta

[]Revisi dari kata2 HASAN AL BANNA

Ditulis pada Uncategorized | Tinggalkan Komentar

Anak Bawang

Ini kisah tentang segerombolan anak ingusan. Pukul 14.00 kebawah adalah waktu bermain yang efektif. Strategis lagi kalau pukul 16.00wib. mereka berlari. Tertawa. Menangis. Gerutu. Marah. obsesi jadi yang terdepan. Yah. Anak-anak yang saya selalu rindu menjadi seperti mereka lagi.

Kami sepakat. Tanpa menandatangani surat materai 6000 bahwa setiap sore adalah hari bermain anak-anak nasional. Dan kami anak-anak ingusan yang dengan sadis meninggalkan PR tergelak lemas menunggu tuannya untuk dikerjakan. Dicampakkan begitu saja setelah pulang sekolah. Sang tuan langsung ganti costum. Taaraaaa!!!! Makan siang dengan brutal. Tancap gas mengayuh sepeda roda dua ke bestcamp. Biasa halaman belakang “ the backyardigan”…di halaman belakang…..
Lanjut membaca

Ditulis pada Uncategorized | 9 Komentar

Palestine never end


“Cabutlah akar-akar zaitun dari genggaman kami..
Penjarakanlah musim semi..
perangilah butir-butir hujan..
Lakukanlah semuanya..
TAPI JANGAN COBA DEKATI AL-AQSA!!”

Ditulis pada Uncategorized | Tinggalkan Komentar

Justice

seseorang itu akan bersikap seperti apa presepsi orang lain kpd dirinya…
walaupun sebelumnya dia tidak spt itu, tp presepsi org lain mampu mengubah perilakunya…
efek secara fisik mgkn tdk terlalu nampk,,tp yang kena adalah mental .
#positif thingking itu hebat!!!!

Ditulis pada Uncategorized | Tinggalkan Komentar